SOTH sendiri juga
didukung penuh oleh stake holder terkait, di antaranya dari
Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Surabaya. Berdasarkan hasil pendataan
yang dilakukan oleh Disdukcapil, dari 2.419 peserta pengukuhan tadi, sebanyak
130 peserta belum memiliki Kartu Identitas Anak (KIA). Disdukcapil
selaku stake holder yang menangani masalah administrasi
kependudukan pun bergerak cepat. Dukungan dari berbagai sektor dan seluruh
elemen masyarakat sangat berarti dan menjadi kunci kesuksesan penurunan stunting
di Kota Surabaya untuk menciptakan generasi emas bebas stunting di Kota
Surabaya.
Pemerintah Kota
Surabaya termasuk salah satu pemerintah daerah yang menyambutnya dengan cepat
dan berkomitmen penuh dalam
melakukan pencegahan, serta penuntasan terjadinya kasus stunting akibat
kurang tepatnya pola asuh orang tua kepada anak-anak. Pemkot Surabaya
bersama Tim Penggerak PKK Surabaya langsung bergerak mewujudkan ide ini. SOTH
ini terbentuk sebagai suatu Lembaga seperti sekolah. Sekolah yang sifatnya
informal, telah dilengkapi dengan kurikulum pendidikan, silabus, pemetaan
instruktur, rencana kegiatan pembelajaran, perangkat monitoring, jurnal,
absensi peserta, absensi pengelola, buku tamu, bahkan memiliki lagu mars. Dalam kurikulumnya, setiap angkatan akan mengikuti 13 pertemuan SOTH didedikasikan untuk membangun komitmen dalam berkomunikasi
antara orang tua dengan anak-anaknya sesuai ilmu dan metode yang benar. Maka
dari itu SOTH memberikan program intensif kepada orang tua balita yang sebagian
besar adalah generasi milenial.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar